Nilai Sekeping Harga Diri
In CerpenKamis, 17 Juni 2010
Dering telepon di atas meja kayu berlapis kaca memecah kesunyian malam itu. Tiga kali sudah dering itu terdengar. Deringan itu terdengar amat nyaring karena digemakan oleh ruangan tengah yang memang cukup luas. Dalam sekejap, terdengar suara derap langkah yang bergerak cepat seakan-akan berlomba dengan suara telepon yang terus berdering. Seorang perempuan paruh baya dengan ekspresi wajah yang tampak masih kusut datang menyambut ke arah sumber suara yang telah mengusik tidur pulasnya malam itu. Dengan gontai ia menggerakkan tangan untuk menggenggam serta kemudian mengangkat gagang telepon berwarna putih bersih itu. Suaranya yang berat mengucapkan salam pembuka yang umum digunakan untuk berkomunikasi. Terdengar sebuah suara yang telah ia kenal merespon di ujung lainnya. Rupanya si penelpon itu masih kerabat dekatnya. Surutlah segera emosi perempuan itu yang sebenarnya telah menyiapkan satu paket caci maki untuk mendamprat orang yang tidak tahu waktu dalam menelpon orang lain. Segeralah ia terlibat dalam suatu pembicaraan yang makin lama tampak makin serius. Hal itu tergambar lewat ekspresi perempuan itu yang semakin lama tampak semakin tegang. ”Hah…?! Ya, Tuhan… benar itu?” ucap bu Mari dengan nada tinggi. Bak disambar petir di siang hari, ia amat terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh kerabat dekatnya itu. Suaranya yang tiba-tiba mengeras mambangunkan putri sulungnya yang kemudian datang menghampiri dengan wajah kebingungan. Ia lantas duduk di kursi ruangan itu, sambil mendengarkan pembicaraan ibunya. Dengan penasaran, ia mencoba mereka-reka arah pembicaraan ibunya dengan seseorang yang belum ia ketahui itu. Ibunya terus berbicara dengan ekspresi terus berubah, dari tegang, bingung dan kini ia tampak sedih. Selang beberapa lama telepon itu ditutupnya. Sejenak bu Mari terdiam, sambil mencoba memenangkan diri dengan mengambil nafas dalam-dalam. ”Ada apa, ma?“ ”Itu tadi siapa?“ tanya Caroline, putri sulung bu Mari. ”Tante Nur” jawab bu Mari. ”Ada berita mengagetkan” imbuhnya. ”Berita mengagetkan? Berita apa?” tanya Carol makin penasaran. ”Tentang Eva. Tante Nur dapat kabar dari teman Eva yang bilang kalau Eva melahirkan siang tadi... anaknya perempuan. Sekarang dia sedang ada di Semarang” ucap bu Mari setengah hati. ”Hah?! yang bener ma?“ balas Carol tak percaya. ”Jadi selama ini dia hamil? Terus, siapa ayah si bayi?” tanya Carol lagi. ”Nah, itulah yang belum diketahui” ucap bu Mari sambil menarik nafas dalam-dalam untuk kesekian kalinya. ”Wah, seru dong!” ujar Carol. Jawaban yang terlontar dari mulut Carol membuat bu Mari mengernyitkan dahi. Tampak ekspresi ketidaksetujuannya atas ucapan putrinya tadi. Sementara itu, Eva, anak tertua dari tante Nur memang bukan orang lain bagi keluarga bu Mari. Selain memang memiliki hubungan keluarga yang dekat, ia pun pernah tinggal beberapa lama bersama keluarga bu Mari. Bu Mari sebagai seorang janda sudah menganggap Eva sebagai anggota keluarga intinya. Namun beberapa waktu setelah kembali ke rumah orangtuanya, Eva melarikan diri dan pergi entah kemana. Itu terjadi hampir setahun yang lalu. Selama menghilang, tak ada seorangpun yang tahu dimana rimbanya. Orangtua malah seakan acuh tak acuh atas kepergian putri mereka, seperti yang sering mereka ungkapkan kepada keluarga bu Mari. Seakan-akan mereka enggan untuk mengakui rasa kehilangan mereka, walau terkadang secara diam-diam berusaha mencari-cari informasi tentang keberadaan putri sulung mereka melalui rekan atau kenalan putrinya. Anggapan bahwa Eva sebagai pemberontak dan anak yang tidak bisa diatur, menjadi satu cap yang ditempelkan pada diri Eva. Entah disengaja atau tidak, perlakuan yang diberikan pada Eva justru memperkuat cap pada diri Eva, yang kini sudah menjadi identitas dirinya. Sudah bukan berita baru jika mendengar perdebatan atau pertengkaran yang terjadi antara Eva dengan orangtuanya, terutama dengan tante Nur. Pola asuh yang keras baik secara fisik maupun verbal sudah menjadi bagian dari sistem pola asuh keluarga itu. Secara ekonomi, keluarga tante Nur dapat dikatakan sebagai keluarga berada. Bisinis transportasi yang dijalankan oleh tante Nur dan suaminya, om Ari, dapat menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Dalam sehari, mereka dapat melakukan perputaran uang dengan kisaran jumlah puluhan juta rupiah. Namun demikian, keberadaan secara ekonomi tidak mereka imbangi dengan pola pikir yang maju, serta sistem pengelolaan uang yang tepat bagi keluarga. Belum lagi jika berbicara tentang dorongan moril serta sistem pendidikan yang tepat dalam keluarga. Tak heran jika Eva sendiri sering berulah dan kerap kali menggunakan jurus melarikan diri untuk mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Ajaibnya, jurus itu seringkali ampuh untuk menarik perhatian kedua orangtuanya. Namun kali ini agaknya sedikit berbeda. Pelarian Eva mempunyai latar belakang dan cara yang berbeda. Selain durasinya lebih lama, tempat pelariannya pun dirahasiakan. Malah kabarnya, Eva sudah membekali diri secara materil untuk mewujudkan rencananya itu. Hingga akhirnya, berita menghebohkan itu telah sampai di telinga kedua orangtuanya, serta keluarga bu Mari. Kedua keluarga ini pun kini sedang bingung untuk menentukan langkah apa yang akan diambil berkaitan dengan kejadian ini. Aku, … adalah anak tertua dari 4 bersaudara. Aku dibesarkan dalam keluarga yang keras serta represif. Meski keluargaku hidup dalam situasi perekonomian yang mencukupi, hal itu tidak menjamin kami dapat hidup dalam sistem keluarga ideal. Keluarga ideal dimana peran orangtua sangat suportif dalam membimbing masa depan anaknya, keluarga dimana orangtua tidak melalukan tekanan secara fisik dan psikologis untuk dapat memenuhi keinginan mereka atas anak-anak mereka, hanyalah merupakan sebuah angan-angan belaka. Itu hanyalah sebuah mimpi yang tak terbeli. Kata-kata kasar serta hukuman fisik merupakan ungkapan dan jatah rutin yang telah aku dapatkan selama bertahun-tahun. Hal lainnya adalah mogok bicara. Yang satu ini sudah menjadi agenda favorit antara aku dan mamaku. Acapkali kami tak menyapa satu sama lainnya, karena berbagai perbedaan keinginan. Jika terjadi kekerasan fisik, jurus yang kuambil berikutnya adalah langkah seribu alias kabur dari rumah. Selanjutnya bisa kutebak, mama akan menawarkan hadiah tertentu untuk mengembalikanku ke rumah. Dengan kondisi keuangan keluarga yang lebih dari cukup, seringkali mamaku berucap ”Ah, kasih aja orang itu uang, entar juga beres”. Perilaku seperti ini berlaku untuk menghadapi berbagai masalah, seperti masalah yang timbul di sekolah, masalah bisnis atau apapun juga. Hal itu pula yang terjadi pada tujuan hidupku selanjutnya yang telah diatur pula oleh orangtuaku. Mereka memaksaku untuk menjadi seorang polisi perempuan atau polwan. Untuk mewujudkan hal itu, mereka siap untuk menggelontorkan sejumlah uang untuk melicinkan jalanku menjadi seorang polwan. Di saat aku gagal dalam beberapa kesempatan untuk diterima menjadi seorang polwan, berbagai lobby dan usaha terus dilakukan oleh orangtuaku. Belum lagi perlengkapan serta obat-obatan yang kerap dijajakan lewat iklan di televisi dengan dalih untuk menambah tinggi badan ataupun untuk menjaga kebugaran seseorang. Semua itu didatangkan hanya untuk menunjang harapan besar mereka terhadapku. Harapan mereka, jika aku dapat diterima menjadi seorang polwan tentunya aku dapat berbuat banyak untuk melancarkan bisnis keluargaku yang notabene banyak berurusan dengan kepolisian. Tapi ini semua bukanlah apa yang aku mau, meski akupun tak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan untuk masa depanku. Aku tidak dibiasakan untuk membuat konsep masa depanku sendiri. Semua yang kulakukan hanyalah demi dan untuk orangtuaku. Urusan yang berkaitan dengan kepolisian tidak berhenti pada karir masa depanku. Untuk memilih pasangan hidup, orangtuaku tidak pernah berhenti untuk mendekatkanku kepada kenalan-kenalan mereka yang memiliki putra seorang polisi. Kadang hal itu membuatku muak. Tapi di sisi lain, aku pun kadang tak segan untuk mendekatkan diri. Dalam posisi keinginan dan kebutuhan yang berseberangan, aku memilih untuk mengambil semua posisi. Aku menjalani hubungan dengan seorang polisi muda, untuk dapat menyenangkan orangtuaku. Pada kesempatan yang lain, aku juga menjalani hubungan dengan orang yang aku sukai. Hubungan ini tidak akan direstui oleh orangtuaku mengingat pria itu, sebut saja Ariel, bukanlah siapa-siapa alias orang biasa saja.“Huh! kalau saja si Ariel itu anak orang kaya, atau paling tidak bukan orang pas-pasan. Pasti akan menyenangkan“. Namun demikian, entah kenapa hubungan itu tetap aku jalani, walau secara diam-diam. Selain dengan kedua pria tersebut, aku pun menjalani hubungan dengan orang lain yang hanya aku lakukan atas dasar suka-suka atau just for fun. Ketiga hubungan ini aku jalani secara bersamaan dengan tanpa tujuan ke depan. Aku semakin tenggelam dalam lautan kebutaan yang semakin menjauhkanku dari titik sadar akan apa yang aku mau dan apa yang aku cari. Hubungan itu terus berlanjut tanpa mengenal batas waktu, jarak dan tempat. Semakin lama, aku dan hubunganku semakin mendekati hal-hal yang tadinya hanyalah sebatas khayalanku saja. Aku begitu menikmati apa yang aku lakukan. Aku pun terkadang tak tahu apakah yang kulakukan ini sesuatu yang wajar atau tidak. Ah, kalau kupikir...sepertinya ini wajar-wajar saja. Aku rasa aku berhak menikmati apa yang bisa kunikmati. Suatu waktu, mama penah menghardikku dengan pertanyaan “Liar banget sih kamu? Pulang larut malam, pake diantar sama laki-laki yang nggak jelas lagi! Jangan-jangan Kamu sudah nggak perawan lagi ya?“ Aku hanya memberikan jawaban sekenanya “Alaaah... apa sih artinya keperawanan? Zaman sekarang itu nggak penting“. Dalam sekejap, berbagai jenis makian serta lemparan berbagai benda menjadi jawaban atas pernyataanku tadi. Sekali lagi, aku tak menghiraukan itu. Apa sih keperawanan itu? Kenapa banyak orang terlalu memusingkan itu? Apakah sebuah selaput tipis di dalam kemaluan menjadi sesuatu yang menentukan jalan hidup seorang perempuan? Tanpa melakukan hubungan seksual pun selaput itu bisa rusak terkoyak oleh banyak hal. Lantas, apakah kehidupan seseorang menjadi tak berarti lagi karena itu? Lalu, bagaimana dengan laki-laki sendiri? Seringkali mereka menuntut keperawanan seorang perempuan yang menjadi pasangan mereka. Tapi mereka sendiri tidak bisa menjamin dan tidak dapat membuktikan keperjakaan mereka. Bukankah banyak pula laki-laki hidung belang yang justru menjadi perenggut keperawanan banyak perempuan? Lantas buat apa mereka menuntut itu? Sementara itu, apakah perempuan harus mati-matian mempertahankan keperawanan hanya agar dipandang layak dan berharga di mata laki-laki? Apakah mereka yang menentukan jalan hidup seorang perempuan? Apakah perempuan tidak memiliki hak untuk memilih? Berbagai kebutuhan termasuk kebutuhan biologis nyatanya merupakan sebuah hirarki kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi. Dan aku berhak untuk memenuhi kebutuhanku sebagaimana aku mau. Aku terus terbuai dengan pergaulan bebas serta kenikmatan yang kuciptakan sendiri untukku. Hingga pada akhirnya, aku mendapatkan diriku telah hamil tanpa tahu siapa ayah janin yang mendekam dalam rahimku. Ketiga laki-laki yang selama ini berhubungan denganku telah memberikan ’kontribusi’ mereka masing-masing pada diriku. Aku lebih memusingkan langkah apa yang akan aku ambil daripada menentukan siapa ayah bayi yang kukandung ini. Berbagai rencana telah aku susun bersama Ariel, sebagai satu-satunya orang yang aku beritahu tentang kehamilanku. Pertanggungjawaban yang ditawarkan Ariel jelas aku tampik, terlebih orangtuaku yang akan menolaknya mentah-mentah. Selama ini, aku memang hanya ingin melakukan apa pun yang aku mau tanpa pernah mau memikirkan resiko yang ada. Kalau ini merupakan sebuah penghukuman, pertanyaan yang kemudian muncul, siap yang terhukum? Apakah ini sebuah penghukuman bagiku karena tindakanku yang kelewat batas, ataukah ini sebuah hukuman bagi orangtuaku yang selama ini tidak memberikanku apa yang sebenarnya aku inginkan dan butuhkan? Terlebih karena apa yang telah mereka lakukan padaku selama ini? Yang aku pasti tahu, mama akan naik pitam jika mengetahui aku hamil dan akan segera melahirkan seorang bayi. Dia pasti akan mengumpat, meneriakkan sumpah serapah terhadapku, mengharamkanku sebagai seorang anak, bahkan akan melayangkan beberapa serangan fisik padaku. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memilih satu rencana, yaitu KABUR! Sayup-sayup tertangkap, suara seseorang yang terdengar tak asing di telingaku. Kucoba membuka kelopak mata yang terasa amat berat. Akhirnya aku dapat menangkap jelas sosok yang ada di depanku saat ini. Bang Herlan, kerabatku yang tinggal di sebuah kota di tengah pulau Jawa yang telah memberikan tempat selama pelarianku, meskipun ia tak menyetujui pelarianku ini. Disampingnya berdiri kak Uci, kekasihnya. Bang Herlan tampak tersenyum dingin kearahku sambil berkata ”Anakmu sudah lahir, Va. Perempuan. Terus, apa rencana kamu berikutnya? Abang sih senang kamu tetap mau melahirkan bayi itu. Tapi, yang abang bingung, kenapa kamu berjuang sendirian? Mana ayah si bayi? Siapa sih dia? Sampai kapan kamu mau merahasiakan dia?“ bang Herlan memberondongku dengan rentetan pertanyaannya. ”Eva, satu hal yang harus kamu ingat baik-baik, jangan biarkan anak kamu ini mengalami apa yang sudah kamu alami dalam keluargamu. Artinya, janganlah kamu menjadi seperti mama kamu bagi anakmu. Kamu ngerti maksud abang? imbuhnya lagi dengan serius. Bersamaan dengan itu, aku diselamatkan oleh suara pintu ruangan yang terbuka. Seorang bayi cantik mungil tampak dalam gendongan seorang suster rumah sakit. Tubuhnya yang terbaring berselimut tampak bergerak perlahan. Bayi itu, keturunanku, kini telah berada di dalam dekapanku. Rasa haru bercampur bingung menyelimuti diriku saat ini. Cantik, itulah panggilanku atas bayi perempuanku yang memang tampak cantik. Sayang, nasibnya belum tentu secantik paras mukanya. Apakah ia hadir pada waktu yang tidak tepat? Atau apakah ia justru hadir di keluarga yang salah? Di kacamata umum, yang pertama patut disalahkan memang orangtua si bayi. Namun, orangtua si bayi pun akan pula menyalahkan orangtua si ibu alias nenek si bayi. Jadi siapa yang salah? Atau lebih tepatnya, siapa yang paling bersalah? Dan aku memilih untuk tidak mencari jawabannya. Waktu terus bergulir, tanpa aku pernah menyadari sebulan sudah aku berdiam diri di rumah ini pasca melahirkan. Rupanya bang Herlan sudah semakin gerah. Lantas, seperti yang biasa dilakukan oleh kerabat lainnya, ia menghubungi tante Mari untuk meminta pendapat, terutama mengenai batas waktuku untuk tinggal di rumahnya serta nasib bayiku. Tante Mari menyatakan bahwa kak Carol dan bang Jack bersedia mengambil bayiku sebagai anak mereka. Tapi tentunya jika orangtuaku, khususnya mamaku menyetujuinya. Usulan itu telah disampaikan kepada mamaku. Namun mama belum memberikan keputusan apapun. Aku tak tahu apa yang ada di benak mama saat ini. Mama adalah seseorang yang sangat tidak dapat ditebak dalam soal pengambilan keputusan. Ia dapat mengambil satu keputusan dengan sangat mudah tanpa berpikir panjang-lebar. Tapi ia juga bisa merubah keputusannya 180 derajat, seeenak hatinya. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sebuah keputusan telah diambil oleh mama. ”Herlan, aku mau kamu menyingkirkan bayi itu! Aku nggak mau tahu akan kamu kemanakan dia. Yang jelas, aku nggak mau melihat dia“ perintah mamaku kepada bang Herlan. ”Lho?! Kenapa nggak dikasih kak Carol aja untuk diasuh? Mereka kan menawarkan itu?“ tanya bang Herlan keheranan. “Dengar ya Herlan, aku nggak mau mereka asuh bayi itu karena jika aku bertandang ke tempat mereka, aku bakal ketemu dengan bayi itu. Dan aku nggak mau itu! Pokoknya aku nggak mau melihat bayi itu lagi. Titik! Jangan biarkan orang lain tahu kemana perginya bayi itu, termasuk Eva.“ jawab mama dengan nada tinggi. ” Tolong kamu atur itu ya Herlan. Sebelum pergi, kirim nomer rekening kamu ke aku secepatnya“ ujar mama kini dengan nada lebih rendah. ”Ya tante...“ ucap bang Herlan ragu-ragu. Setelah hampir seharian bediskusi dengan kak Uci, akhirnya mereka tahu akan mereka bawa kemana bayi yang sedang tetidur pulas itu. Sementara untuk aku, mama memerintahkanku untuk melanjutkan pendidikan di sebuah akademi keperawatan atau di tempat manapun yang aku bisa dapat, agar aku dapat merubah tingkah lakuku. Bahkan, ia berpikir agar aku melakukan operasi kelamin untuk membuat aku ’perawan’ lagi. ”Pada nantinya, orang lain nggak tahu kebodohan apa yang sudah kamu lakukan. Setidaknya, nama keluarga kita dapat tetap terjaga“ begitu kata mama kepadaku sebelum menutup teleponnya. Mendengar itu, aku hanya tersenyum lebar. Apakah itu berarti senyum kemenangan atau senyum kegelian, aku tak tahu pasti. Waktu sudah beranjak sore, bang Herlan berangkat bersama kak Uci dan tentunya si Cantik, untuk pergi menuju ke suatu lokasi yang telah mereka rencanakan beberapa saat sebelumnya. Kepergian itu diawali dengan salam perpisahan kepada si Cantik. Aku sendiri tenang-tenang saja, walau terbersit sedikit kesedihan dalam hati. Entah kenapa, tak ada sedikitpun niat untuk menghalang-halangi atau setidaknya memprotes kepergian si Cantik. Akupun tidak mempertanyakan sikap bang Herlan yang tak membiarkan aku tahu tempat yang bakal mereka tuju. Aku juga bersikap acuh terhadap kak Uci yang terkesan ketakutan dan menghindari pertanyaan-pertanyaanku. Satu-satunya informasi yang keluar dari mulut bang Herlan hanyalah ”Udahlah, kamu tenang aja!“. Cuma itu saja. Kini, si cantik telah dibawa dariku dan dari semua orang yang selama ini berada di sekelilingnya. Akankah aku bertemu lagi dengannya kelak? Mungkinkah nanti ia terlibat lagi dalam episode kehidupanku selanjutnya? ”Ah, ini akibatnya kalau terlalu banyak nonton sinetron“ pikirku. Sejenak muncul pertanyaan yang pernah terlintas dalam benakku beberapa waktu lalu, ”Siapa yang sebenarnya terhukum? Apakah bayi cantik mungil yang ingin disingkirkan itu?“ ”Hmm... malang nian nasibmu nak......“ Dering telepon di atas meja kayu berlapis kaca memecah kesunyian malam itu. Tiga kali sudah dering itu terdengar. Suara derap langkah yang bergerak cepat menyambut ke arah sumber suara. Seorang perempuan paruh baya dengan ekspresi wajah yang tampak masih kusut datang dan segera mengangkat gagang telepon. Ia membuka komunikasi dan lantas diam mendengarkan suara si penelpon. Tampak ekspresi wajahnya terkejut dan lalu berganti dengan kekecewaan yang makin lama makin mendalam. Seorang perempuan yang jauh lebih muda usianya datang menghampiri dengan wajah kebingungan dan lantas duduk di kursi ruangan itu. Setelah hubungan telepon terputus, si ibu segera menyampaikan berita yang baru saja ia dengar itu kepada putrinya. Kedua perempuan itu kini duduk terdiam tanpa berkata-kata. Tatapan mata mereka kosong menerawang dinding ruangan yang berdiri kaku membisu. Tampak butiran air mata mengalir dari sudut mata si ibu. Dengan langkah gontai ia berlalu, menjauhi putrinya yang kini duduk sedih temangu. Satu kata terucap lemah dari bibir si ibu, ”Ia telah pergi”. Siang itu, di sebuah kota di ujung timur pulau Sumatera, dua keluarga sedang membicarakan suatu hal tampak amat penting. Salah seorang ibu berkata ”Jadi begitulah pak. Saat ini putri kami sedang berada di pulau Jawa untuk mendaftarkan diri di sebuah Universitas. Nanti, jika ia ada waktu senggang dan di saat putra bapak sudah kembali dari dinas kepolisian, mungkin mereka dapat kita pertemukan agar lebih akrab satu sama lain“. ”Baik, baik. Saya rasa itu ide yang bagus. Pokoknya, kami sekeluarga sangat mendukung“ lelaki yang di ajak bicara menjawab sambil menganggukan kepala. Sementara itu di tempat lain, di salah satu sudut ruang sebuah universitas yang hampir penuh sesak dengan hiruk pikuk puluhan calon mahasiswa baru, seorang perempuan muda berjalan santai sambil sesekali memainkan telepon genggamnya. Mendadak ia dikagetkan oleh suara seorang pria yang menegurnya ”Hai, ehm... kenalkan namaku Adi. Kita tadi duduk bersebelahan di ruang administrasi. Masih ingat nggak?“. ”Oh, ya... aku ingat. Aku Eva“ ujar perempuan itu. Dalam waktu yang singkat, mereka segera terlibat dalam obrolan yang tampak makin seru.
Related Posts:
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar