Firdaus Jelek

Firdaus Jelek
Pemilik Blog

SIS Radio

SIS Radio
Daus On SIS Radio

Sponsor Blog

Sponsor Blog
Daftar dan dapatkan Ratusan Dolar / Minggu

Sponsor Blog

Koneksi Lambat Telkom Flexi

Rabu, 30 Juni 2010

Di jaman yang serba modern ini, banyak provider yang menyediakan fasilitas yang sangat mengejutkan. di mana fasilitas tersebut tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. jiah. maen ke pokok bahasan terus. mau becanda dikit dulu ah. udah lama gak nge post di blog lagi. bruakakakakaka. :) jika anda mempunyai pertanyaan atau informasi yang di butuhkan seputaran dunia internet atau website silahkan anda kirimkan ke email saya firdaus.jakfar@yahoo.com . nah, lansung ke pembahasan yang tadi. saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya dalam menggunakan beberapa provider internet baik yang berupa modem, maupun kabel. dalam bentuk modem, ada banyak jenis nya, tergantung dari promo yang di berikan oleh sebuah provider internet, dan produk yang di sediakan. saya pernah menggunakan telkom flexi unlimited untuk koneksi saya. di mana awalnya saya sangat puas dengan koneksi nya yang bisa di bilang lumayan kencang juga sih. up to 150kbps. kan lumayan. kita cuman perlu bayar 50.000,- per bulan nya. hehehehe. tapi lama² koneksi nya kok jadi lambat yah...? apa saya sedang memakai modem yang berbeda atau ada batasan waktu untuk penggunaan kartu nya....? berhubung kartunya sering panas dan melengkung akibat panas nya modem yang saya gunakan. untuk informasi cara penggunaan flexined unlimited silahkan lihat di postingan saya yang sebelumnya. demikian. mohon maaf apabila tidak lengkap, berhubung saya posting nya dalam keadaan mendadak dan buru². terima kasih telah berkunjung.

Surat dalam Hujan

Kamis, 17 Juni 2010

Cerpen Rohyati Sofyan Dimuat di Suara Karya 11/16/2008HUJAN. Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti. Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di kolam ikan yang berderet nun di luar? Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan. Aku ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga menulis surat untukmu dalam suasana hujan kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis. Aku rindu suratmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam suratku yang barusan kukirimkan. Mungkin kamu kebingungan dan terpaksa bertanya pada orang yang kebetulan pernah bertemu denganku, entah Mas Herwan FR atau Agus Kresna, meski ada yang merasa tak berhak untuk mengatakan apa-apa karena aku sudah memintanya agar jangan dulu mengabarkan kehadiranku pada orang-orang untuk suatu alasan. Dan rentetan kemungkinan lainnya mengendap dalam benakku. Namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima realita dalam hidup yang penuh ketakterdugaan. Aku kesepian. Apa yang kulakukan. Duduk di kursi sembari mengangkat kaki, dan di rumah hanya ada aku sendiri. Aku membayangkan kamu. Sosok yang tak pernah kutemui. Hanya foto yang kamu kirimkan melengkapi imajinasi: seorang lelaki gondrong yang menarik, dan merasa dirinya secara psikologis sudah dewasa dalam usia 23 tahun. Heran, di luar belasan burung entah apa namanya berseliweran dalam guyuran hujan begini, apa yang mereka cari? Barangkali kamu lebih tahu ekologi dan mau berteori? Aku kedinginan. Aliran listrik padam. Barangkali segelas teh manis panas bisa menghangatkan tubuhku. Apakah di Bandung saat ini sedang hujan juga, dan kamu tengah bagaimana? Mengisap A Mild ditemani secangkir kopi panas? Menulis puisi, cerpen, esai, surat, atau tugas mata kuliah? Di kampus, di rumah, atau di suatu tempat entah? Membaca diktat, buku tertentu, karya sastra, atau komik? Di depan monitor komputer, mengobrol, atau nonton TV? Mendengarkan The Doors atau Ebiet G. Ade? Tidur atau makan? Salat Asar atau menggigil kehujanan? Atau mengguyur badan di kamar mandi? Atau tak melakukan apa-apa sama sekali? Cuma Tuhan yang tahu. Relasi yang aneh, katamu, karena lewat surat. Lalu kamu menyuruhku belajar internet biar bisa bikin e-mail dan tak perlu ke perpustakaan konvensional. Dan kamu janji akan mengajariku jika nanti bertemu. Bertemu. Aku juga ingin bertemu kamu. Namun untuk apa? Adakah makna dari pertemuan itu? Kubayangkan kamu sebagai Indra, temanku, yang membagi dunia lewat tangannya. Namun apa kamu bisa bahasa isyarat sederhana cara abjad? Kamu kecewa karena aku tuli? Apakah dalam surat pertamaku aku harus memberitahu siapa diriku secara mendetail? Aku telah mengambil risiko. Begitu pun kamu. Risiko untuk merelasi diri dan berinteraksi dengan orang asing. Sebuah silaturahmi yang kumulai, haruskah berakhir sia-sia? Aku berusaha menerima diriku sebagaimana adanya dan menjadi orang biasa, meski aku tahu orang-orang di sekitarku kecewa. Keluarga, teman-teman, sahabat dekat, sampai siapa saja yang memang merasa harus kecewa. Bertahun-tahun, ada belasan tahun mungkin, sejak usiaku 16 tahun sampai 25 tahun, kujalani hari dengan sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi-bunyi. Bisakah kamu bayangkan? Ah, aku tak akan bisa mendengar permainan harmonikamu, lalu membandingkannya dengan permainan harmonika abangku. Atau denting gitarmu dengan Eric Clapton. Atau bagaimana suatu melodi tercipta dari puisi. Aku juga tak akan tahu warna suaramu saat memusikalisasikan puisi, berdeklamasi, menyanyi, tadarus, berperan dalam lakon teater, atau bicara biasa saja. Kamu masih ingat, dalam salah satu suratmu, kamu menulis: Setting: Kamar, 141000 - 21.20 WIB, Dewa 19 - Terbaik-terbaik. Gurun yang baik. Barangkali sekaranglah saatnya! Lalu kamu membiarkan selembar halaman kertas itu kosong. Aku mengerti artinya, kamu ingin aku memutar lagu tersebut, dan membiarkan Terbaik-terbaik bicara. Sesuatu yang tengah menggambarkan suasana hatimu saat itu? Sayang, aku tak bisa melakukannya. Kata teman-teman, lagu itu tentang cinta dan persahabatan. Kurasa aku harus bertanya pada Rie, Indra, atau Nana; apa ada yang punya teksnya? Ironis, bukan? Tampaknya kamu senang menulis dengan diiringi musik. Aku iri padamu. Karena aku ingin tahu juga seperti apa indahnya musik klasik itu, entah Mozart yang kata Indra melankolis; atau Chopin di masa silam, gumam Cecep Syamsul Hari dalam puisi Meja Kayu yang kembali muram-surealis, menulis lagu pedih tentang hujan2; atau tahu di mana letak jeniusnya Beethoven yang mencipta komposisi meski tuli; dan bisa mengerti mengapa ayahku sangat menyukai musik klasik selain country. Aku rindu bunyi gamelan, dan ingin kembali belajar menari. Entah jaipong Jugala, tari klasik Jawa, atau mungkin sendratari seperti yang sering kusaksikan di TVRI waktu kecil dulu. Aku ingin berperan sebagai Drupadi atau Srikandi, perpaduan antara kelembutan dan keperkasaan. Kamu lebih suka karakter Bima? Aku suka karakter Yudistira, ia satu-satunya yang (hampir) berhasil mencapai puncak Mahameru sementara saudara-saudaranya satu per satu berguguran. Kamu tahu artinya, kan? Aku lupa penggalan kisah ini dari komik wayang R.A. Kosasih atau majalah Ananda -- yang pernah kita baca waktu kanak-kanak dulu, meski mungkin dalam dimensi yang berbeda. Sudahlah, setidaknya aku bisa tahu minatmu, dan kamu tahu minatku. Aku tak tahu banyak tentang musik, padahal kamu pasti asyik sendiri dengan The Corrs, Dewa, Kubik, Jim Morrison, bahkan juga Jimi Hendrix. Mengapa sih dalam cerpenmu yang barusan dimuat koran, kamu menulis soal Jimi Hendrix dan Jim Morrison? Itu mengingatkanku pada Abuy teman SMU-ku yang sangat mengidolakan mereka dan senang cerita soal itu padaku, seolah merekalah yang bisa meluapkan kegelisahan terpendamnya yang liar menuju muara kebebasan. Lucu, adakah orang tuli yang begitu besar rasa ingin tahunya tentang sesuatu yang tak mungkin bisa dirasakan. Katakan aku aneh. Aku memang orang aneh. Namun aku juga berharap bisa tahu lebih banyak tentang Iqbal, Rumi, Camus, Dylan, Gibran, Cummings, Malna, sampai Rendra. Ya, itu jika kita bertemu. Mungkinkah itu? Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? Tidak, kamu mungkin sudah berharap agar aku jadi seseorang yang ke lima setelah kamu kecewa dengan sekian perempuan yang masuk dalam hidupmu, meski itu terlalu dini karena kita baru tiga kali saling menyurati. Semudah itukah hatimu terpaut, atau kamu cuma ingin mengujiku? Tidak. Aku tak berharap apa-apa darimu. Aku hanya ingin jadi kawanmu. Kawan biasa. Bukan pacar. Meski aku juga ingin punya pacar, sebagaimana perempuan kebanyakan. Seseorang yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana bisa berbagi dunia. Naifkah? Hujan. Aku kembali memandang ke luar jendela kaca. Di sana gunung begitu dekat dengan latar pepohonan seperti hamparan permadani hijau kebiruan, dan kabut yang mengental; terasa beku dalam pelukan kegaiban-Nya. Ya Tuhan, barusan kulihat kilatan petir membelah langit desa di sebelah utara. Subhanallah, indah sekali bentuknya; kilatan warna perak yang abstrak dengan latar kelabu. Aku membayangkan bagaimana seandainya jika petir tiba-tiba menghajarku. Sudahlah, mungkin lebih baik aku membayangkan diriku sebagai Walter Spies atau Alain Compost; akan kuabadikan keindahan panorama hujan. Tidak. Aku bukan mereka. Aku cuma punya kata-kata. Bukan kuas atau kamera. Namun kata-kata yang berhamburan dari mulutku pasti tak akan kamu mengerti sepenuhnya jika kita berbicara. Kamu akan membutuhkan waktu untuk mengenali warna suaraku yang kacau intonasinya, seperti teman-teman dekatku. Mungkin cukup lama. Apakah kita akan bertemu dan bicara seolah kawan lama dengan akrabnya? Atau kaku lalu merasa sia-sia? Aku bukan May Ziadah, Elizabeth Whitcomb, Mabel Hubbard-Graham Bell, Marlee Matlin, atau Jane Mawar. Atau perpaduan perempuan mana yang pernah kau kenal.Hujan

Untuk Sahabat

Ketika dunia terang, alangkah semakin indah jikalau ada sahabat disisi. Kala langit mendung, begitu tenangnya jika ada sahabat menemani. Saat semua terasa sepi, begitu senangnya jika ada sahabat disampingku. Sahabat. Sahabat. Dan sahabat. Ya, itulah kira-kira sedikit tentang diriku yang begitu merindukan kehadiran seorang sahabat. Aku memang seorang yang sangat fanatik pada persahabatan. Namun, sekian lama pengembaraanku mencari sahabat, tak jua ia kutemukan. Sampai sekarang, saat ku telah hampir lulus dari sekolahku. Sekolah berasrama, kupikir itu akan memudahkanku mencari sahabat. Tapi kenyataan dengan harapanku tak sejalan. Beragam orang disini belum juga bisa kujadikan sahabat. Tiga tahun berlalu, yang kudapat hanya kekecewaan dalam menjalin sebuah persahabatan. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Tapi paling tidak, kuharap dalam tiga tahun yang kuhabiskan di sekolahku ini, aku mendapatkan sahabat. Nyatanya, orang yang kuanggap sahabat, justru meninggalkanku kala ku membutuhkannya. “May, nelpon yuk. Wartel buka tuh,” ujar seorang teman yang hampir kuanggap sahabat, Riea pada ‘sahabat’ku yang lain saat kami di perpustakaan. “Yuk, yuk, yuk!” balas Maya, ‘sahabatku’. Tanpa mengajakku Kugaris bawahi, dia tak mengajakku. Langsung pergi dengan tanpa ada basa-basi sedikitpun. Padahal hari-hari kami di asrama sering dihabiskan bersama. Huh, apalagi yang bisa kulakukan. Aku melangkah keluar dari perpustakaan dengan menahan tangis begitu dasyat. Aku begitu lelah menghadapi kesendirianku yang tak kunjung membaik. Aku selalu merasa tak punya teman. “Vy, gue numpang ya, ke kasur lo,” ujarku pada seorang yang lagi-lagi kuanggap sahabat. Silvy membiarkanku berbaring di kasurnya. Aku menutup wajahku dengan bantal. Tangis yang selama ini kutahan akhirnya pecah juga. Tak lagi terbendung. Sesak di dadaku tak lagi tertahan. Mengapa mereka tak juga sadar aku butuh teman. Aku takut merasa sendiri. Sendiri dalam sepi begitu mengerikan. Apa kurangku sehingga orang yang kuanggap sahabat selalu pergi meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti semua ini. Begitu banyak pengorbanan yang kulakukan untuk sahabat-sahabatku, tapi lagi-lagi mereka ‘menjauhiku’. “Faiy, lo kenapa sih ? kok nangis tiba-tiba,” tanya Silvy padaku begitu aku menyelesaikan tangisku. “Ngga papa, Vy,” aku mencoba tersenyum. Senyuman yang sungguh lirih jika kumaknai. “Faiy, tau nggak ? tadi gue ketemu loh sama dia,” ujar Silvy malu-malu. Dia pasti ingin bercerita tentang lelaki yang dia sukai. Aku tak begitu berharap banyak padanya untuk menjadi sahabatku. Kurasa semua sama. Tak ada yang setia. Kadang aku merasa hanya dimanfaatkan oleh ‘sahabat-sahabatku’ itu. Kala dibutuhkan, aku didekati. Begitu masalah mereka selesai, aku dicampakkan kembali. “Faiy, kenapa ya, Lara malah jadi jauh sama gue. Padahal gue deket banget sama dia. Dia yamg dulu paling ngerti gue. Sahabat gue,” Silvy curhat padaku tentang Lara yang begitu dekat dengannya, dulu. Sekarang ia lebih sering cerita padaku. Entah mengapa mereka jadi menjauh begitu. “Yah, Vy. Jangan merasa sendirian gitu dong,” balasku tersenyum. Aku menerawang,” Kalau lo sadar, Vy, Allah kan selalu bersama kita. Kita ngga pernah sendirian. Dia selalu menemani kita. Kalau kita masih merasa sendiri juga, berarti jelas kita ngga ingat Dia,” kata-kata itu begitu saja mengalir dari bibirku. Sesaat aku tersadar. Kata-kata itu juga tepat untukku. Oh, Allah, maafkanku selama ini melupakanmu. Padahal Dia selalu bersamaku. Tetapi aku masih sering merasa sendiri. Sedangkan Allah setia bersama kita sepanjang waktu. Bodohnya aku. Aku ngga pernah hidup sendiri. Ada Allah yang selalu menemaniku. Dan seharusnya aku sadar, dua malaikat bahkan selalu di sisiku. Tak pernah absen menjagaku. Kenapa selama ini aku tak menyadarinya? Dia akan selalu mendengarkan ‘curhatanku’. Dijamin aman. Malah mendapat solusi. Silvy tiba-tiba memelukku. “Sorry banget, Faiy. Seharusnya gue sadar. Selama ini tuh lo yang selalu nemenin gue, dengerin curhatan gue, ngga pernah bete sama gue. Dan lo bisa ngingetin gue ke Dia. Lo shabat gue. Kenapa gue baru sadar sekarang, saat kita sebentar lagi berpisah…” Silvy tak kuasa menahan tangisnya. Aku merasakan kehampaan sejenak. Air mataku juga ikut meledak. Akhirnya, setelah aku sadar bahwa aku ngga pernah sendiri dan ingat lagi padaNya, tak perlu aku yang mengatakan ‘ingin menjadi sahabat’ pada seseorang. Bahkan malah orang lain yang membutuhkan kita sebagai sahabatnya. Aku melepaskan pelukan kami. “ Makasih ya, Vy. Ngga papa koki kita pisah. Emang kalau pisah, persahabatan bakal putus. Kalau putus, itu bukan persahabatan,” kataku tersenyum. Menyeka sisa-sisa air mataku. Kami tersenyum bersama. Persahabatan yang indah, semoga persahabatan kami diridoi Allah. Sahabat itu, terkadang tak perlu kita cari. Dia yang akan menghampiri kita dengan sendirinya. Kita hanya perlu berbuat baik pada siapapun. Dan yang terpenting, jangan sampai kita melupakan Allah. Jangan merasa sepi. La takhof, wala tahzan, innallaha ma’ana..Dia tak pernah meninggalkan kita. Maka jangan pula tinggalkannya.

Nilai Sekeping Harga Diri

Dering telepon di atas meja kayu berlapis kaca memecah kesunyian malam itu. Tiga kali sudah dering itu terdengar. Deringan itu terdengar amat nyaring karena digemakan oleh ruangan tengah yang memang cukup luas. Dalam sekejap, terdengar suara derap langkah yang bergerak cepat seakan-akan berlomba dengan suara telepon yang terus berdering. Seorang perempuan paruh baya dengan ekspresi wajah yang tampak masih kusut datang menyambut ke arah sumber suara yang telah mengusik tidur pulasnya malam itu. Dengan gontai ia menggerakkan tangan untuk menggenggam serta kemudian mengangkat gagang telepon berwarna putih bersih itu. Suaranya yang berat mengucapkan salam pembuka yang umum digunakan untuk berkomunikasi. Terdengar sebuah suara yang telah ia kenal merespon di ujung lainnya. Rupanya si penelpon itu masih kerabat dekatnya. Surutlah segera emosi perempuan itu yang sebenarnya telah menyiapkan satu paket caci maki untuk mendamprat orang yang tidak tahu waktu dalam menelpon orang lain. Segeralah ia terlibat dalam suatu pembicaraan yang makin lama tampak makin serius. Hal itu tergambar lewat ekspresi perempuan itu yang semakin lama tampak semakin tegang. ”Hah…?! Ya, Tuhan… benar itu?” ucap bu Mari dengan nada tinggi. Bak disambar petir di siang hari, ia amat terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh kerabat dekatnya itu. Suaranya yang tiba-tiba mengeras mambangunkan putri sulungnya yang kemudian datang menghampiri dengan wajah kebingungan. Ia lantas duduk di kursi ruangan itu, sambil mendengarkan pembicaraan ibunya. Dengan penasaran, ia mencoba mereka-reka arah pembicaraan ibunya dengan seseorang yang belum ia ketahui itu. Ibunya terus berbicara dengan ekspresi terus berubah, dari tegang, bingung dan kini ia tampak sedih. Selang beberapa lama telepon itu ditutupnya. Sejenak bu Mari terdiam, sambil mencoba memenangkan diri dengan mengambil nafas dalam-dalam. ”Ada apa, ma?“ ”Itu tadi siapa?“ tanya Caroline, putri sulung bu Mari. ”Tante Nur” jawab bu Mari. ”Ada berita mengagetkan” imbuhnya. ”Berita mengagetkan? Berita apa?” tanya Carol makin penasaran. ”Tentang Eva. Tante Nur dapat kabar dari teman Eva yang bilang kalau Eva melahirkan siang tadi... anaknya perempuan. Sekarang dia sedang ada di Semarang” ucap bu Mari setengah hati. ”Hah?! yang bener ma?“ balas Carol tak percaya. ”Jadi selama ini dia hamil? Terus, siapa ayah si bayi?” tanya Carol lagi. ”Nah, itulah yang belum diketahui” ucap bu Mari sambil menarik nafas dalam-dalam untuk kesekian kalinya. ”Wah, seru dong!” ujar Carol. Jawaban yang terlontar dari mulut Carol membuat bu Mari mengernyitkan dahi. Tampak ekspresi ketidaksetujuannya atas ucapan putrinya tadi. Sementara itu, Eva, anak tertua dari tante Nur memang bukan orang lain bagi keluarga bu Mari. Selain memang memiliki hubungan keluarga yang dekat, ia pun pernah tinggal beberapa lama bersama keluarga bu Mari. Bu Mari sebagai seorang janda sudah menganggap Eva sebagai anggota keluarga intinya. Namun beberapa waktu setelah kembali ke rumah orangtuanya, Eva melarikan diri dan pergi entah kemana. Itu terjadi hampir setahun yang lalu. Selama menghilang, tak ada seorangpun yang tahu dimana rimbanya. Orangtua malah seakan acuh tak acuh atas kepergian putri mereka, seperti yang sering mereka ungkapkan kepada keluarga bu Mari. Seakan-akan mereka enggan untuk mengakui rasa kehilangan mereka, walau terkadang secara diam-diam berusaha mencari-cari informasi tentang keberadaan putri sulung mereka melalui rekan atau kenalan putrinya. Anggapan bahwa Eva sebagai pemberontak dan anak yang tidak bisa diatur, menjadi satu cap yang ditempelkan pada diri Eva. Entah disengaja atau tidak, perlakuan yang diberikan pada Eva justru memperkuat cap pada diri Eva, yang kini sudah menjadi identitas dirinya. Sudah bukan berita baru jika mendengar perdebatan atau pertengkaran yang terjadi antara Eva dengan orangtuanya, terutama dengan tante Nur. Pola asuh yang keras baik secara fisik maupun verbal sudah menjadi bagian dari sistem pola asuh keluarga itu. Secara ekonomi, keluarga tante Nur dapat dikatakan sebagai keluarga berada. Bisinis transportasi yang dijalankan oleh tante Nur dan suaminya, om Ari, dapat menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Dalam sehari, mereka dapat melakukan perputaran uang dengan kisaran jumlah puluhan juta rupiah. Namun demikian, keberadaan secara ekonomi tidak mereka imbangi dengan pola pikir yang maju, serta sistem pengelolaan uang yang tepat bagi keluarga. Belum lagi jika berbicara tentang dorongan moril serta sistem pendidikan yang tepat dalam keluarga. Tak heran jika Eva sendiri sering berulah dan kerap kali menggunakan jurus melarikan diri untuk mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Ajaibnya, jurus itu seringkali ampuh untuk menarik perhatian kedua orangtuanya. Namun kali ini agaknya sedikit berbeda. Pelarian Eva mempunyai latar belakang dan cara yang berbeda. Selain durasinya lebih lama, tempat pelariannya pun dirahasiakan. Malah kabarnya, Eva sudah membekali diri secara materil untuk mewujudkan rencananya itu. Hingga akhirnya, berita menghebohkan itu telah sampai di telinga kedua orangtuanya, serta keluarga bu Mari. Kedua keluarga ini pun kini sedang bingung untuk menentukan langkah apa yang akan diambil berkaitan dengan kejadian ini. Aku, … adalah anak tertua dari 4 bersaudara. Aku dibesarkan dalam keluarga yang keras serta represif. Meski keluargaku hidup dalam situasi perekonomian yang mencukupi, hal itu tidak menjamin kami dapat hidup dalam sistem keluarga ideal. Keluarga ideal dimana peran orangtua sangat suportif dalam membimbing masa depan anaknya, keluarga dimana orangtua tidak melalukan tekanan secara fisik dan psikologis untuk dapat memenuhi keinginan mereka atas anak-anak mereka, hanyalah merupakan sebuah angan-angan belaka. Itu hanyalah sebuah mimpi yang tak terbeli. Kata-kata kasar serta hukuman fisik merupakan ungkapan dan jatah rutin yang telah aku dapatkan selama bertahun-tahun. Hal lainnya adalah mogok bicara. Yang satu ini sudah menjadi agenda favorit antara aku dan mamaku. Acapkali kami tak menyapa satu sama lainnya, karena berbagai perbedaan keinginan. Jika terjadi kekerasan fisik, jurus yang kuambil berikutnya adalah langkah seribu alias kabur dari rumah. Selanjutnya bisa kutebak, mama akan menawarkan hadiah tertentu untuk mengembalikanku ke rumah. Dengan kondisi keuangan keluarga yang lebih dari cukup, seringkali mamaku berucap ”Ah, kasih aja orang itu uang, entar juga beres”. Perilaku seperti ini berlaku untuk menghadapi berbagai masalah, seperti masalah yang timbul di sekolah, masalah bisnis atau apapun juga. Hal itu pula yang terjadi pada tujuan hidupku selanjutnya yang telah diatur pula oleh orangtuaku. Mereka memaksaku untuk menjadi seorang polisi perempuan atau polwan. Untuk mewujudkan hal itu, mereka siap untuk menggelontorkan sejumlah uang untuk melicinkan jalanku menjadi seorang polwan. Di saat aku gagal dalam beberapa kesempatan untuk diterima menjadi seorang polwan, berbagai lobby dan usaha terus dilakukan oleh orangtuaku. Belum lagi perlengkapan serta obat-obatan yang kerap dijajakan lewat iklan di televisi dengan dalih untuk menambah tinggi badan ataupun untuk menjaga kebugaran seseorang. Semua itu didatangkan hanya untuk menunjang harapan besar mereka terhadapku. Harapan mereka, jika aku dapat diterima menjadi seorang polwan tentunya aku dapat berbuat banyak untuk melancarkan bisnis keluargaku yang notabene banyak berurusan dengan kepolisian. Tapi ini semua bukanlah apa yang aku mau, meski akupun tak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan untuk masa depanku. Aku tidak dibiasakan untuk membuat konsep masa depanku sendiri. Semua yang kulakukan hanyalah demi dan untuk orangtuaku. Urusan yang berkaitan dengan kepolisian tidak berhenti pada karir masa depanku. Untuk memilih pasangan hidup, orangtuaku tidak pernah berhenti untuk mendekatkanku kepada kenalan-kenalan mereka yang memiliki putra seorang polisi. Kadang hal itu membuatku muak. Tapi di sisi lain, aku pun kadang tak segan untuk mendekatkan diri. Dalam posisi keinginan dan kebutuhan yang berseberangan, aku memilih untuk mengambil semua posisi. Aku menjalani hubungan dengan seorang polisi muda, untuk dapat menyenangkan orangtuaku. Pada kesempatan yang lain, aku juga menjalani hubungan dengan orang yang aku sukai. Hubungan ini tidak akan direstui oleh orangtuaku mengingat pria itu, sebut saja Ariel, bukanlah siapa-siapa alias orang biasa saja.“Huh! kalau saja si Ariel itu anak orang kaya, atau paling tidak bukan orang pas-pasan. Pasti akan menyenangkan“. Namun demikian, entah kenapa hubungan itu tetap aku jalani, walau secara diam-diam. Selain dengan kedua pria tersebut, aku pun menjalani hubungan dengan orang lain yang hanya aku lakukan atas dasar suka-suka atau just for fun. Ketiga hubungan ini aku jalani secara bersamaan dengan tanpa tujuan ke depan. Aku semakin tenggelam dalam lautan kebutaan yang semakin menjauhkanku dari titik sadar akan apa yang aku mau dan apa yang aku cari. Hubungan itu terus berlanjut tanpa mengenal batas waktu, jarak dan tempat. Semakin lama, aku dan hubunganku semakin mendekati hal-hal yang tadinya hanyalah sebatas khayalanku saja. Aku begitu menikmati apa yang aku lakukan. Aku pun terkadang tak tahu apakah yang kulakukan ini sesuatu yang wajar atau tidak. Ah, kalau kupikir...sepertinya ini wajar-wajar saja. Aku rasa aku berhak menikmati apa yang bisa kunikmati. Suatu waktu, mama penah menghardikku dengan pertanyaan “Liar banget sih kamu? Pulang larut malam, pake diantar sama laki-laki yang nggak jelas lagi! Jangan-jangan Kamu sudah nggak perawan lagi ya?“ Aku hanya memberikan jawaban sekenanya “Alaaah... apa sih artinya keperawanan? Zaman sekarang itu nggak penting“. Dalam sekejap, berbagai jenis makian serta lemparan berbagai benda menjadi jawaban atas pernyataanku tadi. Sekali lagi, aku tak menghiraukan itu. Apa sih keperawanan itu? Kenapa banyak orang terlalu memusingkan itu? Apakah sebuah selaput tipis di dalam kemaluan menjadi sesuatu yang menentukan jalan hidup seorang perempuan? Tanpa melakukan hubungan seksual pun selaput itu bisa rusak terkoyak oleh banyak hal. Lantas, apakah kehidupan seseorang menjadi tak berarti lagi karena itu? Lalu, bagaimana dengan laki-laki sendiri? Seringkali mereka menuntut keperawanan seorang perempuan yang menjadi pasangan mereka. Tapi mereka sendiri tidak bisa menjamin dan tidak dapat membuktikan keperjakaan mereka. Bukankah banyak pula laki-laki hidung belang yang justru menjadi perenggut keperawanan banyak perempuan? Lantas buat apa mereka menuntut itu? Sementara itu, apakah perempuan harus mati-matian mempertahankan keperawanan hanya agar dipandang layak dan berharga di mata laki-laki? Apakah mereka yang menentukan jalan hidup seorang perempuan? Apakah perempuan tidak memiliki hak untuk memilih? Berbagai kebutuhan termasuk kebutuhan biologis nyatanya merupakan sebuah hirarki kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi. Dan aku berhak untuk memenuhi kebutuhanku sebagaimana aku mau. Aku terus terbuai dengan pergaulan bebas serta kenikmatan yang kuciptakan sendiri untukku. Hingga pada akhirnya, aku mendapatkan diriku telah hamil tanpa tahu siapa ayah janin yang mendekam dalam rahimku. Ketiga laki-laki yang selama ini berhubungan denganku telah memberikan ’kontribusi’ mereka masing-masing pada diriku. Aku lebih memusingkan langkah apa yang akan aku ambil daripada menentukan siapa ayah bayi yang kukandung ini. Berbagai rencana telah aku susun bersama Ariel, sebagai satu-satunya orang yang aku beritahu tentang kehamilanku. Pertanggungjawaban yang ditawarkan Ariel jelas aku tampik, terlebih orangtuaku yang akan menolaknya mentah-mentah. Selama ini, aku memang hanya ingin melakukan apa pun yang aku mau tanpa pernah mau memikirkan resiko yang ada. Kalau ini merupakan sebuah penghukuman, pertanyaan yang kemudian muncul, siap yang terhukum? Apakah ini sebuah penghukuman bagiku karena tindakanku yang kelewat batas, ataukah ini sebuah hukuman bagi orangtuaku yang selama ini tidak memberikanku apa yang sebenarnya aku inginkan dan butuhkan? Terlebih karena apa yang telah mereka lakukan padaku selama ini? Yang aku pasti tahu, mama akan naik pitam jika mengetahui aku hamil dan akan segera melahirkan seorang bayi. Dia pasti akan mengumpat, meneriakkan sumpah serapah terhadapku, mengharamkanku sebagai seorang anak, bahkan akan melayangkan beberapa serangan fisik padaku. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memilih satu rencana, yaitu KABUR! Sayup-sayup tertangkap, suara seseorang yang terdengar tak asing di telingaku. Kucoba membuka kelopak mata yang terasa amat berat. Akhirnya aku dapat menangkap jelas sosok yang ada di depanku saat ini. Bang Herlan, kerabatku yang tinggal di sebuah kota di tengah pulau Jawa yang telah memberikan tempat selama pelarianku, meskipun ia tak menyetujui pelarianku ini. Disampingnya berdiri kak Uci, kekasihnya. Bang Herlan tampak tersenyum dingin kearahku sambil berkata ”Anakmu sudah lahir, Va. Perempuan. Terus, apa rencana kamu berikutnya? Abang sih senang kamu tetap mau melahirkan bayi itu. Tapi, yang abang bingung, kenapa kamu berjuang sendirian? Mana ayah si bayi? Siapa sih dia? Sampai kapan kamu mau merahasiakan dia?“ bang Herlan memberondongku dengan rentetan pertanyaannya. ”Eva, satu hal yang harus kamu ingat baik-baik, jangan biarkan anak kamu ini mengalami apa yang sudah kamu alami dalam keluargamu. Artinya, janganlah kamu menjadi seperti mama kamu bagi anakmu. Kamu ngerti maksud abang? imbuhnya lagi dengan serius. Bersamaan dengan itu, aku diselamatkan oleh suara pintu ruangan yang terbuka. Seorang bayi cantik mungil tampak dalam gendongan seorang suster rumah sakit. Tubuhnya yang terbaring berselimut tampak bergerak perlahan. Bayi itu, keturunanku, kini telah berada di dalam dekapanku. Rasa haru bercampur bingung menyelimuti diriku saat ini. Cantik, itulah panggilanku atas bayi perempuanku yang memang tampak cantik. Sayang, nasibnya belum tentu secantik paras mukanya. Apakah ia hadir pada waktu yang tidak tepat? Atau apakah ia justru hadir di keluarga yang salah? Di kacamata umum, yang pertama patut disalahkan memang orangtua si bayi. Namun, orangtua si bayi pun akan pula menyalahkan orangtua si ibu alias nenek si bayi. Jadi siapa yang salah? Atau lebih tepatnya, siapa yang paling bersalah? Dan aku memilih untuk tidak mencari jawabannya. Waktu terus bergulir, tanpa aku pernah menyadari sebulan sudah aku berdiam diri di rumah ini pasca melahirkan. Rupanya bang Herlan sudah semakin gerah. Lantas, seperti yang biasa dilakukan oleh kerabat lainnya, ia menghubungi tante Mari untuk meminta pendapat, terutama mengenai batas waktuku untuk tinggal di rumahnya serta nasib bayiku. Tante Mari menyatakan bahwa kak Carol dan bang Jack bersedia mengambil bayiku sebagai anak mereka. Tapi tentunya jika orangtuaku, khususnya mamaku menyetujuinya. Usulan itu telah disampaikan kepada mamaku. Namun mama belum memberikan keputusan apapun. Aku tak tahu apa yang ada di benak mama saat ini. Mama adalah seseorang yang sangat tidak dapat ditebak dalam soal pengambilan keputusan. Ia dapat mengambil satu keputusan dengan sangat mudah tanpa berpikir panjang-lebar. Tapi ia juga bisa merubah keputusannya 180 derajat, seeenak hatinya. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sebuah keputusan telah diambil oleh mama. ”Herlan, aku mau kamu menyingkirkan bayi itu! Aku nggak mau tahu akan kamu kemanakan dia. Yang jelas, aku nggak mau melihat dia“ perintah mamaku kepada bang Herlan. ”Lho?! Kenapa nggak dikasih kak Carol aja untuk diasuh? Mereka kan menawarkan itu?“ tanya bang Herlan keheranan. “Dengar ya Herlan, aku nggak mau mereka asuh bayi itu karena jika aku bertandang ke tempat mereka, aku bakal ketemu dengan bayi itu. Dan aku nggak mau itu! Pokoknya aku nggak mau melihat bayi itu lagi. Titik! Jangan biarkan orang lain tahu kemana perginya bayi itu, termasuk Eva.“ jawab mama dengan nada tinggi. ” Tolong kamu atur itu ya Herlan. Sebelum pergi, kirim nomer rekening kamu ke aku secepatnya“ ujar mama kini dengan nada lebih rendah. ”Ya tante...“ ucap bang Herlan ragu-ragu. Setelah hampir seharian bediskusi dengan kak Uci, akhirnya mereka tahu akan mereka bawa kemana bayi yang sedang tetidur pulas itu. Sementara untuk aku, mama memerintahkanku untuk melanjutkan pendidikan di sebuah akademi keperawatan atau di tempat manapun yang aku bisa dapat, agar aku dapat merubah tingkah lakuku. Bahkan, ia berpikir agar aku melakukan operasi kelamin untuk membuat aku ’perawan’ lagi. ”Pada nantinya, orang lain nggak tahu kebodohan apa yang sudah kamu lakukan. Setidaknya, nama keluarga kita dapat tetap terjaga“ begitu kata mama kepadaku sebelum menutup teleponnya. Mendengar itu, aku hanya tersenyum lebar. Apakah itu berarti senyum kemenangan atau senyum kegelian, aku tak tahu pasti. Waktu sudah beranjak sore, bang Herlan berangkat bersama kak Uci dan tentunya si Cantik, untuk pergi menuju ke suatu lokasi yang telah mereka rencanakan beberapa saat sebelumnya. Kepergian itu diawali dengan salam perpisahan kepada si Cantik. Aku sendiri tenang-tenang saja, walau terbersit sedikit kesedihan dalam hati. Entah kenapa, tak ada sedikitpun niat untuk menghalang-halangi atau setidaknya memprotes kepergian si Cantik. Akupun tidak mempertanyakan sikap bang Herlan yang tak membiarkan aku tahu tempat yang bakal mereka tuju. Aku juga bersikap acuh terhadap kak Uci yang terkesan ketakutan dan menghindari pertanyaan-pertanyaanku. Satu-satunya informasi yang keluar dari mulut bang Herlan hanyalah ”Udahlah, kamu tenang aja!“. Cuma itu saja. Kini, si cantik telah dibawa dariku dan dari semua orang yang selama ini berada di sekelilingnya. Akankah aku bertemu lagi dengannya kelak? Mungkinkah nanti ia terlibat lagi dalam episode kehidupanku selanjutnya? ”Ah, ini akibatnya kalau terlalu banyak nonton sinetron“ pikirku. Sejenak muncul pertanyaan yang pernah terlintas dalam benakku beberapa waktu lalu, ”Siapa yang sebenarnya terhukum? Apakah bayi cantik mungil yang ingin disingkirkan itu?“ ”Hmm... malang nian nasibmu nak......“ Dering telepon di atas meja kayu berlapis kaca memecah kesunyian malam itu. Tiga kali sudah dering itu terdengar. Suara derap langkah yang bergerak cepat menyambut ke arah sumber suara. Seorang perempuan paruh baya dengan ekspresi wajah yang tampak masih kusut datang dan segera mengangkat gagang telepon. Ia membuka komunikasi dan lantas diam mendengarkan suara si penelpon. Tampak ekspresi wajahnya terkejut dan lalu berganti dengan kekecewaan yang makin lama makin mendalam. Seorang perempuan yang jauh lebih muda usianya datang menghampiri dengan wajah kebingungan dan lantas duduk di kursi ruangan itu. Setelah hubungan telepon terputus, si ibu segera menyampaikan berita yang baru saja ia dengar itu kepada putrinya. Kedua perempuan itu kini duduk terdiam tanpa berkata-kata. Tatapan mata mereka kosong menerawang dinding ruangan yang berdiri kaku membisu. Tampak butiran air mata mengalir dari sudut mata si ibu. Dengan langkah gontai ia berlalu, menjauhi putrinya yang kini duduk sedih temangu. Satu kata terucap lemah dari bibir si ibu, ”Ia telah pergi”. Siang itu, di sebuah kota di ujung timur pulau Sumatera, dua keluarga sedang membicarakan suatu hal tampak amat penting. Salah seorang ibu berkata ”Jadi begitulah pak. Saat ini putri kami sedang berada di pulau Jawa untuk mendaftarkan diri di sebuah Universitas. Nanti, jika ia ada waktu senggang dan di saat putra bapak sudah kembali dari dinas kepolisian, mungkin mereka dapat kita pertemukan agar lebih akrab satu sama lain“. ”Baik, baik. Saya rasa itu ide yang bagus. Pokoknya, kami sekeluarga sangat mendukung“ lelaki yang di ajak bicara menjawab sambil menganggukan kepala. Sementara itu di tempat lain, di salah satu sudut ruang sebuah universitas yang hampir penuh sesak dengan hiruk pikuk puluhan calon mahasiswa baru, seorang perempuan muda berjalan santai sambil sesekali memainkan telepon genggamnya. Mendadak ia dikagetkan oleh suara seorang pria yang menegurnya ”Hai, ehm... kenalkan namaku Adi. Kita tadi duduk bersebelahan di ruang administrasi. Masih ingat nggak?“. ”Oh, ya... aku ingat. Aku Eva“ ujar perempuan itu. Dalam waktu yang singkat, mereka segera terlibat dalam obrolan yang tampak makin seru.

Fitrah Dalam Naungan

Bandara, 15 Juni Xy. Di sebuah bandara, seorang gadis berusia sekitar dua puluhan mendorong koper travelnya sambil celingak-celinguk mencari sesuatu. Gadis itu berkulit langsat, namun bermata biru. Rambutnya yang hitam lurus terurai sampai di bawah bahunya. Badannya tinggi semampai sangat sesuai dengan terusan kuning yang membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Di tangannya tergantung jaket berbahan woll berlapis sutera yang dikenakannya di pesawat tadi. Beberapa berlian menjuntai berkilauan menghias kalung yang melingkari leher jenjangnya. Modis. Sangat modis. Itulah kesan yang pasti ditimbulkan di setiap mata yang memandangnya. Tak lama ia berjalan, akhirnya bibir tipisnya mengeluarkan senyum tipis pula yang menawan. Ia melihat papan kecil bertuliskan “WELCOME TO INDONESIAN, MISS VIENNECE”. Ia segera menuju orang yang memegangi papan tersebut. “Thanks Mister, telah menyambut saya,” katanya sembari mengulurkan tangan. Di depannya pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun tersenyum ramah. “Ini sudah menjadi tugas saya. Mari saya antarkan ke kedutaan,”balasnya ramah. Tangan Miss Viennece tidak disambutnya. Ia malah segera berbalik sambil mendorong koper Mis Viennece. ”Hh, Daddy, Indonesian so bad. Everyone in here never know greet!! I want back home, Daddy. I dislike Indonesian ! I’m Viennece Rindgrand Harv!! The best student of Australian University ! No one can’t like me! So, each mystep and say I’m the best !! Anywhere…!!!” *** Blackpearl Hotel, 20 Juni Xy. Dear Dady, Dad, saya sangat prihatin dengan Indonesian! Wajar negara ini never Going up! Sudah lima hari saya stay at this hotel. Nope, Daddy!! Mister Brann, perwakilam kedutaan Australian say this is best hotel in this town. But, are you believe Dad? Shower, Dad! Shower! Just shower yang ada di sini. Tak ada bathtub! Apalagi seperti bathtub yang di rumah. Bisakah kau bayangkan Dad? Seorang Viennece dan shower? And then, baru dua hari yang lalu Dad, I saw orang aneh di sini. Di kamar-kamar sebelah saya, semua wanitanya memakai baju jiran, Dad! Mereka menutup kepala mereka dengan kain yang tebal. Baju-baju mereka juga seperti mantel teball musim dingin ! Setahu saya, di sini tak ada winter! Dan sudah jelas, di sini sangat panas. Setelah saya bertanya tentang baju Jiran itu kepada Mr. Brann, Daddy tahu apa yang dia katakan? ISLAM. ISLAM, Dad. Saya sangat takjub. In the technology’s era like that, masih ada faham sesat seperti Islam ini. Apakah orang-orang di sini tidak berfikir, tidakkah mereka jengah menyembah Tuhan yang jelas-jelas tidak ada? Ke manakah logika mereka? Saya jijik melihat mereka. Saya sudah minta changed kamar dengan Mr. Brann, tapi shit! Nothing kamar lain yang kosong. Hanya satu kamar kosong di kompleks Islam ini. Nope Dad! *** Town Library, 1 Juli Xy. “This is Indonesian languages books, Vienn,” Rani tersenyum sambil menunjuk rak biru diantara rak-rak lain. “Oh, thank you. Saya rasa saya akan mengambil yang so thick. Saya tidak betah baca lama-lama.” “Bagaimana Indonesia, Vienn?” kali ini Sita yang bertanya. “Em…I think indonesia lumayan bagus. Orangnya ramah-ramah,” jawaban yang seadanya. Vienn masih sibuk mencari buku yang sesuai seleranya. Tiba-tiba ia melihat sebuah buku terselip di antara buku-buku bahasa. ISLAM DAN LOGIKA. Judul besar tertulis di sampul buku itu. Vienn terhenyak. Ia membuka buku itu. Gemetaran tangannya membaca buku itu. Satu hal yang tak pernah terpikir olehnya. Menembus logika Islam…beginikah Islam? “Vienn, come on kita kembali ke hotel. Sudah waktunya lunch.” “I, iya.” Tanpa sepengetahuan yang lain, Vienn membeli buku itu dan segera membayarnya sebelum yang lain menyadari. Buku itu dimasukannya dalam tas kemudian dipegangnya tasnya erat-erat. Seolah takut buku itu raib. Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi, tapi kehenyakan yang sangat hebat menghancurkan keraguannya.. Dalam hatinya ia merasa inikah kebenaran? *** Blackpearl Hotel, 2 Juli Xy. Dearest Daddy, Dad, ternyata orang-orang di sini tidak seburuk dugaan saya. Semuanya ramah pada saya . They always help me too. Saya sekarang sudah bisa berteman dengan mereka. Last day mereka mengajak saya ke library. Di sana saya memebeli buku. Buku Islam Dad. Maybe Daddy mengira saya sudah gila. And… maybe daddy,s right. Tapi saya rasa buku itu menarik Dad. Daddy juga harus membacanya ketika saya sudah kembali ke Australia nanti. Di sini juga banyak orang-orang berintelektual. Di sini saya perlahan mengerti saya bukan orang yang paling the best. You know, Daddy? Saya sangat terkejut dengan pandangan saya. First, saya menganggap orang-orang, yah, maksud saya wanita-wanita berbaju Jiran yang mereka sebut Hijab itu sangat rendah. Rendah sekali malah. But now, entah mengapa mereka terlihat sangat teduh. Ya, teduh. Mereka berkata Hijab yang mereka kenakan itu sangat nyaman dipakai. Shit ! Naif ! I know mereka sangat naif Daddy. Daddy, saya ingin cepat menyelesaikan tugas kedutaan ini lalu segera kembali ke Australia. Di sini pikiran saya kacau. Mungkin karena cuaca di sini tidak cocok untuk saya. *** History Museum, 7 Juli Xy. Hari ini Viennece mengunjungi museum sejarah diantar oleh Mr. Brann untuk menyelesaikan tugasnya agar ia bisa cepat-cepat kembali ke Australia. “Miss Vienn, sudah waktunya pulang.” “Sebentar Mister. Saya harus ke toilet dulu. Mister tunggu saja di mobil. Sepuluh menit saya menyusul.” “Tidak apa-apakah Miss?” “Saya bukan lagi baby, Brann! Ayolah! Saya tak suka kamu mengawal saya sampai ujung dunia sekalipun.” “Ok. It’s up to you, Miss. Want something?” “Nope!” Vienn pergi ke toilet. Ia bingung. Di hotel kedutaan many girls yang berpakaian Jiran. Namun ketika ia ke tengah-tengah town, hanya beberapa saja yang terlihat mengenakan pakaian seperti Rani dan yang lainnya itu. “Yah, ok. It’s Indonesian, not at Australian,”ia bergumam dalam hati. Begitu keluar dari gedung museum Vienn tidak menemukan mobil kedutaan Brann. Ia mulai panik. “Hey, Stop this Kidding! It’s not fun, Mister Brann!” Namun tetap saja Mr. Brann tidak ada. Vienn cemas. Dia tidak tahu berapa jarak museum ini dengan hotel. How far? Bertambah cemasnya ia saat menyadari Handphone dan pagernya tertinggal di dalam mobil. Ia kembali ke museum dan bertanya kepada resepsionis. “Bagaimana saya bisa temukan Blackpearl Hotel?” Resepsionis itu bingung dengan pronounsation Vienn yang kacau. “Blackpearl Hotel? Apakah anda wakil kedutaan?’ “Right! I’m from Australian.” “Oh, jika ingin ke Blackpearl anda bisa naik kereta atau taksi.” “Tell me which better?” “Lebih aman jika anda naik kereta. Malam-malam begini naik taksi berbahaya. Apalagi untuk anda Nona.” Vienn keluar. Dalam hatinya menggerutu, “Shit! Brann Shit! Seorang Viennece naik kereta? Nope! Kamu harus bayar mahal ini semua, Brann!” Ya, Vienn tidak punya pilihan lain. Ia segera naik kereta dan duduk manis di sana. Dia membayangkan seandainya Daddy tahu hal ini, Daddy tentu akan menuntut kedutaan! Ya, apa yang tidak Daddy lakukan untuknya? Untuknya yang hanya semata wayang setelah Mommy meninggal tepat sebulan setelah ia lahir. Bahkan untuk menemaninya bermain saat Daddy pergi bekerja, Daddy mengadopsi seorang anak perempuan dari panti. Dan sekarang adik angkat yang hanya berselisih satu tahun darinya itupun sudah besar dan sudah duduk di bangku kuliah pula. Orang-orang di kereta tiba-tiba ribut. Vienn mulai terganggu. Ia bertanya pada anak Senior high school di sebelahnya. “Apa yang terjadi?” “Ndak tahu Mbak! Kayaknya kereta ini bermasalah.” “Bermasalah?” Belum sempat menjelaskan, tiba-tiba pemuda tadi berlari meninggalkannya. Orang-orang juga berlarian. Sepertinya panik. Vienn maju ke depan. Ingin tahu apa yang terjadi. “Hey Sir! What happen?!” “Sebentar lagi kereta ini akan tabrakan dengan kereta jurusan berlawanan karena kesalahan waktu keberangkatan !” jelas masinis terputus-putus karena cemas. “Kalau begitu berhentikan kereta ini!! Hurry up!!” “Tidak bisa!! Kereta ini kereta listrik Otomatis!” “Nope!! Turunkan saya!” “Silahkan kalau bisa! Dalam kecepatan seperti ini, tidak mungkin.” “Lalu apa yang harus dilakukan?” “Berdoa saja Neng! Berlindunglah di bawah kursi.” “Shit!” teriak Vienn sambil berlari ke belakang. Berdoa? Kepada siapa ia berdoa? Siapa Tuhannya? Bukankah sejak kecil ia tidak diberitahu siapa Tuhannya? Vienn baru akan bersembunyi saat ia melihat cahaya lampu kereta tepat di depan keretanya melesat dengan kecepatan tinggi ! Saat terakhir hanya satu kalimat yang diingatnya yang dari dalam hatinya terus ingin dikeluarkannya. “Allahu Akbar !!!” BRAKKK!!!! Semuanya gelap.*** Blackpearl Hotel, 2 Agustus Xy. Dearest Daddy, Dad, sudah hampir 3 minggu saya pulang dari hospital. Luka saya lumayan sembuh. Hanya luka di pipi kanan ini kata dokter akan membekas. Daddy, saya telah memilih jalan saya. Sekarang saya adalah muslimah, Dad. Selama saya di hospital saya terus bermimpi saya berada di tempat yang gelap dan suara alunan Qur’an membuat saya sadar dan di samping saya ada Rina dan yang lain melantunkan kitab suci itu. Ya, Dad Al-Qur’an adalah kitab saya sekarang. Mungkin Daddy akan menentang saya. Tapi saya telah memilih jalan saya, Dad. Saya harap Daddy mengerti dan suatu saat juga bisa membuka hati untuk Islam. Dad, sekarang Tuhan saya adalah Allah. Dialah yang menciptakan kita semua Dad. Saya sadar disaat tidak bisa lagi logika saya menyelamatkan saya, saya butuh pencipta. Saya tidak mau sendiri. Dad, sebentar lagi saya kembali ke Australia. Kata Rina, di sana ada Islamic Center tempat saya bertemu saudara-saudara seiman saya. Saya akan sering ke sana. Dad, Islam itu indah. Saya akan mengenalkannya pada Daddy. See you.*** 5 Agustus Xy. Epilog: Vienn pamit dengan teman-teman sekompleks kamarnya. Sebelum pergi banyak yang menghadiahinya jilbab, Al-Qur’an dan alat sholat. Kathrin mengambil tas sandangnya. “Thank you. Saya tidak akan pernah lupakan kalian.” Vienn tersenyum. Setetes air mata jatuh dan membasahi jilbab biru muda yang dipakainya. Segera diusapnya. Ia akhirnya masuk ke mobil menuju bandara Soekarno-Hatta dan naik pesawat menuju Australia. Dua Hari kemudian… “Astaghfirullah!!” Rina menjerit dari kamar hotelnya. Yang lain menghampirinya. Rina gemetar dan air matanya perlahan mengalir. Ditunjukkannya koran di bawah kursinya. Tertulis di sana: “PESAWAT JURUSAN AUSTRALIA DARI BANDARA SOEKARNO-HATTA KEMARIN JATUH DAN DIPASTIKAN SEMUA PENUMPANGNYA MENINGGGAL.” Di daftar penumpang yang jasadnya telah dievakuasi terdapat nama Viennece Rindgrand Harv.